Diaphorina citri ( Kutu Loncat)
 |
| Perkembangan nimfa instar 1 sampai instar 5 yang serupa tetapi berbeda ukuran. Instar 1 (paling kiri) berukuran sangat kecil, sedangkan instar 5 (paling kanan) berukuran jauh lebih besar. |
 |
| Kutu dewasa hinggap dengan bagian kepala menempel dan pantat terangkat |
klasifikasi menurut ITIS
axonomic Hierarchy
|
|
|
|
| Kingdom | Animalia – Animal, animaux, animals |
|
| Phylum | Arthropoda – Artrópode, arthropodes, arthropods |
|
| Subphylum | Hexapoda – hexapods |
|
| Class | Insecta – insects, hexapoda, inseto, insectes |
|
| Subclass | Pterygota – insects ailés, winged insects |
|
| Infraclass | Neoptera – modern, wing-folding insects |
|
| Order | Hemiptera Linnaeus, 1758 – true bugs, hemipterans |
|
| Suborder | Sternorrhyncha |
|
| Superfamily | Psylloidea |
|
| Family | Psyllidae – jumping plantlice |
|
| Genus | Diaphorina |
|
| Species | Diaphorina citri Kuwayama, 1908 |
|
|
|
|
Morfologi
Kutu
loncat jeruk mempunyai tiga stadia hidup, yaitu serangga dewasa, telur, dan
nimfa. Siklus hidupnya mulai dari telur sampai dewasa berlangsung antara 16- 18
hari pada kondisi panas, sedangkan pada kondisi dingin sampai 45 hari. SeIama
setahun serangga ini dapat mencapai 9 - 10 generasi.
Stadium dewasa ditandai dengan terbentuknya sayap dan kutu ini dapat terbang
atau meloncat. Warna kutu dewasanya coklat muda sampai coklat tua,
matanya berwarna kelabu dan bercak-bercak coklat. Bagian abdomennya berwarna
hijau terang kebiruan dan orange. Panjang tubuhnya sekitar 2 - 3 mm. Ciri
lainnya adalah pada saat makan, serangga ini posisinya menungging atau
membentuk sudut.
Kopulasi segera berlangsung setelah serangga menjadi dewasa. Selanjutnya,
serangga betina mencari ranting-ranting yang bertunas dan peletakan telurnya
mulai berlangsung setelah 8 - 20 jam setelah kopulasi. Masa bertelur
bervariasi, yaitu antara 10 - 40 hari, sedangkan jumlah telurnya dapat mencapai
800 butir.
Telur berbentuk lonjong dan agak menyerupai buah adpokat, warna kuning terang.
Cara meletakkan telurnya tidak teratur, kadang-kadang berkelompok atau terpisah
sendiri-sendiri. Bagian tanaman yang menjadi tempat meletakkan telur adalah
tunas-tunas daun, atau jaringan tanaman yang masih muda, seperti tangkai tunas
dan permukaan daun bagian atas dan bawah yang belum membuka. Setelah 2- 3 hari
telur menetas menjadi nimfa.
Nimfa yang baru menetas hidup berkelompok pada jaringan tanaman muda dan
mengisap cairan tanaman. Setelah nimfa berumur 2 - 3 hari, kemudian menyebar
dan mencari makan pada daun-daun muda di sekitarnya. Periode nimfa berlangsung
selama 12 - 17 hari dan selama ini terjadi 5 kali pergantian kulit.
Setelah pergantian kulit yang pertama nimfa bertambah aktif mencari makanan dan
berpindah dari satu daun ke daun lainnya, dan nimfa tersebut merusak tanaman,
bila dibandingkan dengan serangga dewasanya. Warna nimfa tersebut kuning sampai
kuning kecoklatan. Kelima instar nimfa tersebut dapat dibedakan berdasarkan
ukuran, bentuk awal perkembangan terbentuknya sayap dan penyusunan sklerit pada
toraks bagian dorsal.
D. citri tertarik pada
tunas-tunas muda sebagai tempat peletakan telur, sehingga pertunasan tanaman
merupakan faktor penting dalam perkembangbiakannya. Di Jawa Barat, tanaman
jeruk bertunas 5 kali dalam setahun sehingga terdapat 5 periode kritis dimana D. citri mencapai jumlah yang sangat tinggi. Untuk
mengetahui populasi D. citri perlu diamati kuncup dan tunas.
Di Indonesia tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Madura,
Bali, dan Sulawesi. Hama ini juga diketahui telah menyebar di negara-negara
Asia seperti Pakistan, India, Cina, Filipina, Jepang dan Amerika Selatan,
Brazilia
Gejala
Kerusakan
karena aktivitas kutu loncat jeruk adalah daun jeruk menjadi berkerut-kerut,
menggulung atau kering, dan pertumbuhannya menjadi terhambat serta tidak
sempurna. Selain daun yang masih muda, kutu ini dengan stiletnya menusuk dan
menghisap cairan sel pada tangkai daun, tunas-tunas muda atau jaringan tanaman
lainnya yang masih muda. Gejala lainnya adalah hasil sekresi alau
kotorannya berupa benang yang berwarna putih dan bentuknya menyerupai spiral.
Apabila serangannya berat, bagian tanaman yang terserang menjadi layu, kering
dan kemudian mati. Apabila hama ini menyerang satu tanaman dengan merata, maka
penumbuhan bunga menjadi terhambat dan produksi akan berkurang.
Serangga ini selain menjadi hama juga dapat menularkan organisme Liberobacter asiatium yakni patogen dari Citrus Vein Phloem
Degeneration (CVPD) atau saat ini secara Internasional dikenal sebagai Citrus
Huang Lung Bin.
Pengendalian
Pengendalian
secara bercocok tanam/kultur teknis, meliputi cara-cara yang
mengarah pada budidaya tanaman sehat yaitu : terpenuhinya persyaratan tumbuh
(suhu, curah hujan, angin, ketinggian tempat, tanah), pengaturan jarak tanam,
pemupukuan, dan pengamatan dengan pemasangan 1 unit perangkap likat kuning
setiap 5 pohon dalam satu baris. Hitung serangga dewasa yang terperangkap
setiap 2 minggu. Pengamatan dengan pemasang-an perangkap ini dilakukan
disamping untuk tujuan pengamatan, juga dalam rangka mengurangi populasi kutu
loncat.
Pengendalian mekanis dan fisik, dilakukan dengan eradikasi tanaman inang
lain di sekitar pertanaman jeruk.
Pengendalian biologi, dengan memanfaatkan musuh alami parasitoid,
predator dan patogen.PrarasitoidTamarixia radiata (Water) dan Diaphorincyrtus diaphorinae (Lin & Tao), D. Aligarhensis yang daya parasitasinya berturut-turut
90 %, dan 60 – 80 %, serta Psyllaephagus sp. Predator
seperti Curinus coerulus Mulsant,Coccinella repanda, C. Transversalis F., lalat Syrphidae, Chysomelidae, dan
Lycosidae. Patogen Matarrhiziumsp., dan Hirsutella thomsoni diketahui dapat menekan populasi kutu
loncat.
Pengendalian kimiawi, dengan menggunakan insektisida selektif dan
efektif sesuai rekomendasi pada saat tanaman bertunas.
ITIS
citrusbiosecurity